Minggu, 22 Mei 2016

Aku benci kebohongan, kamu?



Satu tahun, dua belas purnama
Hidup dengan kebohongan
Selama itu dada ku terasa seperti terikat mati dengan tali yang kuat..

sesak, sesak.. ini sangat sesak kasih
Ingin rasa hati melepas semuanya dan
Bernafas lega bersamamu.
tetapi...

Malam itu aku ragu untuk menyatakan sejujurnya
Aku takut melukai hatimu
Aku takut hatimu tersilet kejujuranku ini.

Menghela nafas..
Memandang ikan yang tengah bahagia dengan air dan batu karang
Dan melihat air sungai mengalir sampai berujung laut.

Aku menjalani drama menyakit kan ini
Seperti air sungai itu kasih, menunggu, jalan perlahan, dan pada saatnya tiba berujung laut
Kamu bebas pergi mencari cinta yang lain kasih..
Dan kini kau sudah mendapatkan nya.
Dan aku? Hanya terdiam di tengah luasnya laut ini.

Hai masalalu ku

Apakah kau ingat
Disaat pertama kali aku menyapamu?
Senyuman tipis dan jantung berdebar sangat cepat

Lalu bagaimana lebah yang setiap kali menyerang dengan racunnya?
Bukankah bunga menginginkan kelembutan?

Bukankah hitam itu tinta dan putih itu kertas?

Lalu mengapa? Mengapa semua terasa berbeda? Apa karna mereka mempunyai cara tersendiri?

Hai masalalu ku..
Jikalau mereka mempunyai cara tersendiri,
Aku pun punya cara sendiri mencintaimu.
Dengan melihat bahagia mu bersamanya. Itulah caraku mencintaimu..

Detik ini aku merasa sendiri tanpa cinta disisiku..

Sabtu, 21 Mei 2016

hempas

pagi selalu menawarkan cerita yang baru. Untuk semua pertanyaan yang belum sempat terjawab. biarlah kukenang wajahmu.. dan biarpun jauh jarak pandang kita, namun hati dan jiwaku selalu merasa disisimu.

gundah di hati

Resah di dadaku...
Dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini,
dipisah kata-kata.
Begitu pula rindu.
Lihat tanda-tanda itu.
Jurang antara kebodohan dan keinginanku,
memilikimu sekali lagi...

terkaku sendiri

Malam itu aku duduk terdiam di tengah kesunyian
menatap para dewi yang enggan berbicara
entah mengapa ia diam membisu seribu bahasa
apakah ia juga tau akan kesedihanku ?

Luka ini aku pendam
Sakit yang sangat mendalam
Sakit yang tak bisa terbendung lagi
Bagaikan luka tersirami air keras

Kau pergi bersama semua kenangan
kita.... jauh dan jauh
meninggalkan aku sendiri
bersama luka dalam hati.. terimakasih duhai cintaku 

pada malam itu

Pada malam itu.. Iya malam itu dingin menusuk jantungku disaat kau mengucapkan selamat tinggal, sendiri iya sendiri aku tanpa cinta dan hati ini terbungkam hanya karna mu.. berderit-derit jantungku disaat aku melihat bingkaian fotomu dan membaca semua puisi untukmu.. malam itu aku merasa para dewi ikut bersedih melihat gelapnya hatiku..

puluhan purnama

Malam yang sangat dingin.. Aku terbangun dengan tubuh yg terkaku kau mengucapkan terimakasih telah menjadi terbaik dari beribu bintang di langit ini, puluhan purnama telah berlalu, pelukan mu pun masih terasa di mimpi ini..